KHUTBAH JUM’AT – MEWUJUDKAN KEMBALI MAKNA HAKIKI HIJRAH NABI
Tidak terasa waktu
berjalan begitu cepat, kita sekarang sudah berada pada tahun 1440 H. Menurut Ar
Raghib al Ashfahany, hijrah berarti keluar dari darul kufur, yakni wilayah yg
tidak menerapkan hukum-hukum Islam, menuju darul iman (yakni wilayah yg
menerapkan seluruh hukum Islam)[1]. Hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah
merupakan peristiwa penting yang mengubah wajah umat Islam saat itu. Umat yang
awalnya tertindas & teraniaya di Makkah selama 13 tahun, setelah hijrah ke
Madinah dan menegakkan tatanan masyarakat yang islamy dalam sebuah negara,
berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani. Oleh karena itu tatkala
mendiskusikan tentang penanggalan Islam, Umar bin Khaththab ra. menyatakan:
بل نؤرخ لمهاجرة
رسول الله، فإن مهاجرته فرق بين الحق والباطل
Bahkan kita akan
menghitung penanggalan berdasarkan hijrahnya Rasulullah, sesungguhnya Hijrah
itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Ma’âsyirol Muslimin
Rahimakumullah
Esensi hijrah yang
dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah mengubah tatanan perilaku jahiliyyah menjadi
perilaku Islamiy. Dalam situasi sekarang, hijrah bisa kita lakukan dengan
berpindah dari suatu tempat yang kita khawatirkan menggoyahkan keimanan kita
sementara kita tidak sanggup berupaya mengubahnya, menuju tempat yang dipenuhi
suasana keimanan, meninggalkan pekerjaan yg banyak kemaksiatannya beralih ke
pekerjaan yang halal, meninggalkan teman, lingkungan pergaulan, sekolah, dan
apapun yang bisa membuat kita melanggar aturan Allah menuju teman, lingkungan
pergaulan, sekolah dan apapun juga yg mempermudah kita mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Inilah hijrah yg dimaksud oleh hadits :
الْمُسْلِمُ مَنْ
سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى
اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang
yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah
orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah ” (HR. Bukhory)
إِنَّ الْهِجْرَةَ
خَصْلَتَانِ إِحْدَاهُمَا أَنْ تَهْجُرَ السَّيِّئَاتِ وَالْأُخْرَى أَنْ تُهَاجِرَ
إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ مَا تُقُبِّلَتْ التَّوْبَةُ
وَلَا تَزَالُ التَّوْبَةُ مَقْبُولَةً حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ الْمَغْرِبِ
فَإِذَا طَلَعَتْ طُبِعَ عَلَى كُلِّ قَلْبٍ بِمَا فِيهِ وَكُفِيَ النَّاسُ الْعَمَلَ
“Hijrah itu dua macam: yang
pertama adalah kamu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Yang kedua adalah
kamu berhijrah kepada Allah dan RasulNya. Kewajiban Hijrah tidak akan terputus
selama taubat masih diterima, dan taubat akan senantiasa diterima sampai
matahari terbit dari barat. Jika matahari sudah terbit dari barat maka setiap
hati akan distempel dengan apa yang ada di dalamnya, dan manusia sudah tertutup
dari amalan.” (HR. Ahmad).
Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah
Allah mengancam
orang-orang yg memilih berada dalam situasi yg bergelimang kemaksiyatan,
memilih ditindas sehingga tidak dapat melaksanakan keta’atan, sementara mereka
punya kesempatan untuk berhijrah. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ
تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا
كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً
فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang
yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[3], (kepada
mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka
menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas dimuka bumi[4]“. Para
malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah
di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali. (An Nisa’ : 97)
Ma’âsyirol Muslimin
Rahimakumullah
Disisi lain Allah
memberikan kabar gembira bagi orang yang mau berhijrah dengan tempat yg luas
dan rizqi yang banyak. Allah berfirman:
وَمَنْ يُهَاجِرْ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ
مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ
وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Barang siapa berhijrah di
jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas
dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud
berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum
sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi
Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa’
:100)
Mudah mudahan Allah
menjadikan kita orang-orang yg berhijrah dari kemaksiatan, menjadikan tahun ini
lebih baik dari tahun lalu, menuju sistem dimana kita dapat menancapkan
keyaqinan dalam diri kita dan akan memberikan kemudahan dan keberkahan bagi
hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar