Sabtu, 29 September 2018

FAFIRRU ILALLOH


FAFIRRU ILALLAH
Bergegas Kembali Kepada Alloh

Alhamdulilah, Allah memberikan hidayah dan taufiq, telah memudahkan langkah kita menuju majelis ta’lim yang dimuliakan Alloh. Semoga langkah tersebut diiringi ampunan-Nya, pikiran dicerahkan, hati dibukakan, dibukakan pintu kesadaran untuk bersyukur atas karunia-karunia-Nya.Shalawat dan salam kepada pembawa Risalah Islamiyyah Uswatun Hasanah, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wasallam bagi yang mengharapkan keridhaan Allah di Hari Akhir, beserta keluarga dan pewaris di setiap zaman.
Panca indera yang sempurna adalah anugerah dari Allah tanpa usaha manusia pengadaannya.
Allah persiapkan planet bumi untuk manusia dengan rancangan segala perbendaharaannya baik yang ada di permukaan maupun di perut bumi. Semuanya adalah aset yang sangat berharga untuk kelangsungan hidup umat manusia sepanjang waktu yang ditentukan.
Apa yang dititipkan itu merupakan karunia Allah, dan betapa murah-Nya Allah memberi tanpa diminta. Demikianlah semua berasal dari Allah, dan kembali kepada Allah.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Innaa lillah wa innaa ilayhi rooji’un. [Q.S. Al-Baqarah: 156]
Dan yang lebih utama dari semua itu adalah kesempatan terbaik untuk lebih merasakan karunia yang lebih dahsyat lagi, yang hakiki dan permanen jika berhasil mempertahankan kondisi fitrah ketika ‘berpulang’ sebagaimana ketika ‘datang’. Kewajiban manusia setelah terlahir di muka bumi adalah kembali kepada Allah wa innaa ilayhi rooji’un, dengan membawa fitrah yang sama, membawa nilai-nilai Ilahiyyah (Ketuhanan), kebaikan dan kebenaran, dalam keadaan bersih dari dosa. Rangkaian kalimat Innaa lillah wa innaa ilayhi rooji’un adalah perjalanan waktu yang menyeret manusia menuju kepada Sang Pencipta.
Maka dalam proses kembali kepada Allah dalam pandangan Ahlul Kasyfi memerlukan usaha yang maksimal supaya ketika pulang kepada Allah dalam keadaan tentram dan damai.Manusia telah dilimpahi karunia dari Allah tanpa usaha dan permintaan, tapi ia punya kewajiban mengikuti jalan (aturan) Allah ketika pulang kepada-Nya.Bukanlah hal yang mudah untuk proses mengikuti jalan Allah. Ujian demi ujian menghadang perjalanan menuju kepada Allah. Usaha (maskasib) mesti maksimal agar mengikuti jalan Allah supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan.

MODAL PERJALANAN
PROSES KEMBALI KEPADA ALLAH
Manusia saat ini dalam proses wa innaa ilayhi rooji’uun (kembali kepada Allah). Dalam menempuhnya mesti menggunakan jalan (thoriqoh), atau metodologi .
Metode yang dipilih adalah cara atau pejalanan yang di tempuh , dilakukan oleh para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin.
Modal perjalanan pulang kepada-Nya adalah keimanan (kepercayaan). Tanpa keimanan manusia akan menggunakan metode sendiri-sendiri.
Jalan yang lurus sudah dibentangkan oleh seluruh para Nabi dan Rasul-Nya. Setelah rangkaian para Nabi maka metode jalan itu dibawa oleh para pewaris, Al-’Ulama.
Sepanjang zaman jalan yang lurus telah ditegakkan. Dan hanya orang yang beriman saja yang mengikuti jalan yang lurus itu.
Demikian pula di akhir zaman ini yang mengikuti (beriman) pada pewaris Nabi adalah mereka yang mengikuti jalan yang lurus.
Modal keimanan ini adalah yang menjadi semangat dan energi dalam jalan menuju kepada Allah.
Kualitas keimanan itu selalu diuji, agar terlihat jelas perbedaan iman yang benar dan yang salah. Al-Quran menyebutkan,أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. ﴿العنكبوت: ٢﴾Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? [Q.S. Al-Ankabut: 2]Obyek keimanan di sini tidak disebutkan hanya menunjukkan sifat umum, karena obyek keimanan tidak hanya kepada Allah saja. Akan tetapi ada 77 cabang iman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SIFAT SHALAT NABI

SIFAT SHALAT NABI (1) BERANGKAT MENUJU MASJID Hadist-hadist tentang Gerakan Shalat صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي Shalatl...