HAWA NAFSU
Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional
yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan
pemikiran atau fantasi seseorang.
Hawa nafsu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Afeksi Kemarahan Kecemasan Derita Jengkel Pengharapan
Kegelisahan Ketakacuhan Kegairahan Kekaguman Kebosanan Kepercayaan Kejijikan
Kepuasan Keberanian Keingintahuan Depresi Hasrat Keputus asaan Kekecewaan
Kemuakan Ketidakpercayaan Ekstasi Kejengahan Empati Entusiasme Iri Euforia
Ketakutan Frustasi Perasaan bersyukur Kenestapaan Rasa bersalah Kebahagiaan
Kebencian Harapan Horor Permusuhan Penghinaan Minat Kecemburuan Kegembiraan
Kesepian Cinta Nafsu Kebiadaban Panik Renjana Kasihan Kesenangan Kebanggaan
Kegusaran Penyesalan Pertobatan Dendam Kesedihan Kerinduan Schadenfreude
Percaya diri Malu Terkejut Perasaan malu Duka Penderitaan Terkejut Kepercayaan
Bertanya-tanya Khawatir
lbs
Detail: Luxuria (Hawa Nafsu), dalam The Seven Deadly Sins
and the Four Last Things, oleh Hieronymus Bosch.
Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional
yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan
pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang
kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek
atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut.[1] Dapat berupa hawa nafsu untuk
pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya; namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa
nafsu seksual.
Dalam agama
Islam
"Hawa nafsu" terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس).
Dalam bahasa Melayu, 'nafsu' bermakna keinginan,
kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa
(=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan
perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan
makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh.[2]
Ketiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal
dari bahasa Arab:
Hawa (الهوى): sangat cinta;
kehendak
Nafsu (النفس): roh; nyawa;
jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha
Syahwat (الشهوة): keinginan
untuk mendapatkan yang lazat; berahi.[3]"
Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai
"syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia," yang bertugas untuk
mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan
membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal
ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat
dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.
Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri
yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul
kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan
keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik
lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang
potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan).
Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan
bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena
hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai
hal tersebut.
Kekristenan
Dalam kitab suci Perjanjian Baru bahasa Indonesia
terjemahan LAI, ditemukan bahasa Yunani: ἐπιθυμέω (sesuai yang tertulis di
Septuaginta) diterjemahkan menjadi keinginan yang tidak berhubungan dengan
seksual. Dan juga dalam banyak terjemahan bahasa Inggris: desire, covet, misalnya
pada ASV. Beberapa contohnya yaitu:
Matius 13:17 : Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak
melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
Lukas 22:15 : Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat
rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.
Kisah Para Rasul 20:33 : Perak atau emas atau pakaian
tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.
Secara khusus ἐπιθυμέω dalam bahasa Yunani terkait dengan
keinginan seksual (bahasa Inggris: lust) misalnya pada Matius 5:28 :
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang
memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam
hatinya."
Kemungkinan hal tersebut yang menyebabkan "hawa
nafsu" sering dikaitkan dengan keinginan seksual, baik di Indonesia maupun
di banyak negara berbahasa Inggris.
Katolik
Hawa nafsu berasal dari bahasa Latin: luxuria yang
digunakan Santo Hieronimus untuk menerjemahkan berbagai dosa dalam kitab suci
(Vulgata), termasuk kemabukan dan hasrat seksual berlebih.[4] Santo Gregorius
Agung kemudian menempatkan hawa nafsu (bahasa Latin: luxuria, bahasa Inggris:
luxury) dalam salah satu dari tujuh dosa pokok, dan mempersempit cakupannya
menjadi keinginan yang tidak teratur.[4][5] Lalu Santo Thomas Aquinas dalam
Summa Theologia turut menegaskan bahwa hawa nafsu memang termasuk dosa pokok;
sambil mengutip kata-kata St Isidorus dari Sevilla, St Thomas mengaitkan hawa
nafsu sebagai kesenangan seksual yang merusakkan pikiran manusia.[6] Perlu
diketahui bahwa Alkitab Douay Rheims, yang dahulu umum digunakan kalangan
Katolik berbahasa Inggris, menggunakan kata luxury bukan lust.
Secara lengkap Katekismus Gereja Katolik (KGK) #2351
mendefinisikan hawa nafsu (bahasa Inggris: lust) sebagai suatu keinginan yang
tidak teratur atau kenikmatan berlebihan atas kepuasan seksual, apabila
kepuasan tersebut dikejar bagi dirinya sendiri dengan melepaskannya dari tujuan
prokreasi (demi kelahiran manusia baru) dan persatuan dalam cinta kasih suami -
isteri (Tobit 8:4-9) --KGK #2361.[7] Ungkapan kebiasaan buruk hawa nafsu
menghasilkan dosa berat (Lihat: Bobot Dosa) melawan kemurnian yaitu:
perzinahan, masturbasi, perselingkuhan, pornografi, pelacuran, perkosaan, dan tindakan
homoseksual (yang merupakan dosa adalah tindakan/perbuatan seksualnya, bukan
kecenderungan seksualnya).[8] Dengan lebih tegas St Thomas Aquinas mengatakan
bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan hawa nafsu termasuk dalam dosa
berat, termasuk ciuman atau sentuhan yang dilakukan dengan penuh gairah dan
nafsu.[9]
Karena kadar dosa yang berat, mutlak dibutuhkan
penyesalan dan rahmat dari Sakramen Pengakuan Dosa sebagai langkah awal
kesembuhan dari keterikatan hawa nafsu (KGK #1856)[5]; sehingga kemudian
seseorang dapat menyambut Komuni Kudus yang memampukannya untuk berjuang lebih
baik dalam mengatasi bahaya dosa berat di kemudian hari (KGK #1395)[10]. Santo
Paulus mengatakan bahwa hawa nafsu termasuk dalam perbuatan atau keinginan
daging (Galatia 5:19), sehingga perjuangan mengatasi hawa nafsu membutuhkan
keutamaan kemurnian berupa pembersihan hati dan pengendalian diri (KGK
#2517).[11]
HAWA NAFSU, LAWAN ATAU KAWAN?
Definisi Hawa nafsu
Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,
الهوى ميل الطبع إلى ما يلائمه
“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang
selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah, hal. 3).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
وقد يطلق الهوى بمعنى المحبة والميل مطلقًا،
فيدخل فيه الميل إلى الحق وغيره
“Terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta
dan kecondongan, maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan
selainnya” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/399).
Asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Hawa nafsu dinamakan
al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya (ke dalam Neraka-pent)” (Asbabut
Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3). Orang yang
memperturutkan hawa nafsu, hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan
nafsu sesaat di dunia, tanpa berpikir panjang akibatnya, walaupun harus rela
kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akherat.
Apakah Hawa Nafsu Tercela?
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam
kitab tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga
kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah,
tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah.
Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah
mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak
selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian.
Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.
Namun Mengapa Banyak Disebutkan Celaan Terhadap Hawa
Nafsu?
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Ketika
sikap yang sering terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan
amarah tidak bisa berhenti sampai pada batas mengambil manfaat saja (darinya),
karena itulah (banyak) disebutkan nafsu, syahwat dan amarah dalam konteks yang
tercela. Karena dominannya bahaya yang ditimbulkannya (dan) jarang orang yang
mampu bersikap tengah-tengah dalam hal itu (mengatur nafsu, syahwat, dan
amarahnya- pent)” (Asbabut Takhallaush
minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
وربما استعمل بمعنى محبة الحق خاصة والانقياد
إليه
“Bisa pula digunakan secara khusus untuk makna kecintaan
terhadap kebenaran dan tunduk (kepada Allah) dengan mengamalkannya” (Jaami’ul
Uluum wal Hikam: 2/399).
Beliau juga berkata,
و المعروف في استعمال الهوى عند الإطلاق : أنه
الميل إلى خلاف الحق
“Makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa
nafsu secara mutlak, tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondonggan kepada
sesuatu yang menyelesihi kebenaran” (Jaami’ul Uluum wal Hikam: 2/398).
Maksud Ucapan Kedua Ulama Tersebut
Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa
nafsunya dengan adil, tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan
dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti
hawa nafsu, syahwat dan amarahnya. Karena itulah hawa nafsu sering
disebutkan dalam konteks yang tercela.
Kesimpulan Tentang Status Hawa Nafsu
Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa
kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai
dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan
syari’at, maka tercela.
Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa
terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa
nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.
Jadi, Ia lawan atau kawan?
Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat
teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh
Anda.
Celaan Terhadap Mengikuti Hawa Nafsu dalam Kitabullah
Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di
beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, diantaranya adalah firman-Nya,
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”
(Al-Furqaan: 43).
Allah Ta’ala berfirman :
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ
عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ
أَفَلَا تَذَكَّرُون
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan
Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”
(Al-Jaatsiyah: 23).
Allah Ta’ala berfirman :
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ
اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah
bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Qashash:50).
Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat
Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah
beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit
syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.
Ulama merinci sebagai berikut:
Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa
sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul
ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.
Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu
dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam
perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan
fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Seluruh maksiat tumbuh
dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan
Rasul-Nya”,
Beliau juga berkata,
“Dan demikian pula bid’ah, sesungguhnya bid’ah hanyalah
muncul dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas syari’at, oleh karena itu
mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan, sesungguhnya
maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan
kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang Dia cintai”. (Jami’ul Uluum wal
Hikam: 2/397-398).
Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama (syubhat) Lebih Parah
dibandingkan Dalam Urusan Syahwat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
واتباع الأهواء في الديانات أعظم من اتباع
الأهواء في الشهوات
“Mengikuti hawa nafsu dalam beragama (syubhat) lebih
parah dibandingkan Mengikuti hawa nafsu dalam urusan syahwat” (Al-Istiqomah,
Ibnu Taimiyyah, versi Maktabah Syamilah di
http://Islamport.com/w/tym/Web/3203/689.htm).
Adapun apakah mengikuti hawa nafsu itu syirik akbar?
Simak jawabannya di Mengikuti hawa nafsu itu syirik akbar? Ini jawabannya!
(bag.1), In sya Allah Ta’ala.
Referensi :
Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah).
http://www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/44356
Jaami’ul Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab.
Al-Ishbah, Syaikh Abdullah Al-‘Ubailan.
Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Islamqa.info/ar/145466
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.Or.Id
Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk
informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira
JANGAN MENGIKUTI HAWA NAFSU
Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap
sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan tersebut sering
menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu
hawa nafsu harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allâh Azza wa
Jalla . Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa
terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.
Syaikhul Islam t berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah
kecintaan jiwa dan kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan
kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu
tidak bisa dikuasai. Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu,
sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ
فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ
سَبِيلِ اللَّهِ
Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allâh. [Shâd/38: 26] [Majmû’ Fatâwâ, 28/132]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Seseorang yang
mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan
yang dia sukai dan menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa
dasar petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla ” [Majmû’ Fatâwâ, 4/189]
HAWA NAFSU MENGAJAK KESESATAN
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ
اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ
إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ
بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ
Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang
halal) yang disebut nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya
Allâh telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa
yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar
benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas. [Al-An’âm/6: 119]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah
pembolehan dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya, orang-orang
Mukmin untuk memakan sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama
Allâh Azza wa Jalla . Yang terfahami (dari ayat ini) yaitu tidak boleh memakan
semua sembelihan yang dilakukan dengan tanpa menyebut nama Allâh Azza wa Jalla
, sebagaimana orang-orang kafir yang musyrik membolehkan mengkonsumsi bangkai
dan semua sembelihan (yang dipersembahkan-red) untuk berhala (punden), atau
lainnya.
Kemudian Allâh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya
untuk mengkonsumsi sembelihan-sembelihan yang dilakukan dengan menyebut nama
Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla
berfirman, yang artinya, ‘Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang
yang halal) yang disebutkan nama Allâh ketika menyembelihnya, padahal
sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan kepada kamu apa yang
diharamkan atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya’. Yaitu kecuali
dalam keadaan darurat, maka ketika itu dibolehkan bagi kamu (untuk
mengkonsumsi) apa yang kamu dapatkan.
Kemudian Allâh Azza wa Jalla menjelaskan kebodohan
orang-orang musyrik dalam pendapat mereka yang rusak tersebut, yaitu berupa
penyataan yang membolehkan memakan bangkai dan sembelihan-sembelihan yang
dilakukan dengan menyebut nama selain nama Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa
Jalla berfirman, yang artinya, ‘Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia)
benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas’. Yaitu: Dia yang lebih mengetahui terhadap perbuatan
mereka yang melampaui batas, kedustaan mereka, dan kebohongan mereka.” [Tafsîr
Ibnu Katsir, 3/323]
Termasuk mengikuti hawa nafsu adalah orang yang menolak
syari’at setelah penjelasan datang kepadanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا
يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah
bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan
tidak mendapat petunjuk dari Allâh sedikitpun. Sesungguhnya Allâh tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. [Al-Qashshash/28: 50]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا
كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu
berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya
(sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [Al-Mâidah/5: 77]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Barangsiapa
mengikuti hawa nafsu manusia setelah mereka mengetahui agama Islam yang Allâh
amanahkan kepada Rasul-Nya untuk membawa agama itu dan juga setelah mengetahui
petunjuk Allâh yang telah dijelasakan kepada para hamba-Nya, berarti dia berada
dalam kedudukan ini (yaitu sebagai pengikut hawa nafsu-pen). Oleh karena itu
para Salaf menamakan ahli bid’ah dan orang-orang yang berpecah-belah,
orang-orang yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah (al-Hadits)
sebagai ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu). Karena mereka
menerima apa yang mereka sukai dan menolak apa yang mereka benci dengan dasar
hawa nafsu (kesenangan semata-pen), tanpa petunjuk dari Allâh Azza wa Jalla ”.
[Majmû’ Fatâwâ, 4/190]
BAHAYA MENGIKUTI HAWA NAFSU
Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan
agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allâh dan Rasul-Nya. Dia akan selalu
menjadikan hawa nafsu menjadi tolok ukurnya.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Fondasi agama
(Islam) adalah mencintai karena Allâh dan membenci karena Allâh, mendukung
karena Allâh dan menjauhi karena Allâh, beribadah karena Allâh, memohon
pertolongan kepada Allâh, takut kepada Allâh, berharap kepada Allâh, memberi
karena Allâh, dan menghalangi karena Allâh. Ini hanya dapat dilakukan dengan
mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena perintah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allâh Azza wa Jalla , larangannya
adalah larangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , memusuhinya berarti memusuhi Allâh,
mentaatinya sama dengan mentaati Allâh dan mendurhakainya sama dengan
mendurhakai Allâh Azza wa Jalla .
Bahkan orang yang mengikuti hawa nafsunya telah dibuat
buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Sehingga dia tidak bisa memperhatikan dan
melaksanakan apa yang menjadi hak Allâh dan Rasul-Nya dalam hal itu, dan dia
tidak mencarinya. Dia tidak ridha karena ridha Allâh dan Rasul-Nya, dia tidak
marah karena kemarahan Allâh dan Rasul-Nya. Tetapi dia ridha jika mendapatkan
apa yang diridhai oleh hawa nafsunya, dan marah jika mendapatkan apa yang membuat
hawa nafsunya marah”. [Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/255-256]
Dengan demikian maka mengikuti hawa nafsu akan menyeret
pelaku kepada kesesatan dan kerusakan. Sebab timbulnya bid’ah adalah hawa
nafsu, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam, “Permulaan bid’ah adalah
mencela Sunnah (ajaran Nabi) dengan dasar persangkaan dan hawa nafsu
(sebagaimana bibit kemunculan golongan Khawarij-pen), sebagaimana Iblis mencela
perintah Allâh (saat diperintahkan sujud kepada Adam) dengan fikirannya dan
hawa nafsunya”. [Majmû’ al-Fatâwâ, 3/350]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah
mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ
والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا
Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang
menyelamatkan.
Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan
dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri.
Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut
kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu
kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.
[Hadits ini diriwayatkan dari Sahabat Anas, Ibnu Abbas,
Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar g . Hadits ini dinilai
sebagai hadits hasan oleh syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahâdîts
ash-Shahihah, no. 1802 karena banyak jalur periwayatannya]
Demikian juga bahaya mengikuti hawa nafsu adalah
mendatangkan kesusahan dan kesempitan hati.
Syaikhul Islam berkata, “Barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, seperti
mencari kepemimpinan dan ketinggian (dunia-pen), keterikatan hati dengan
bentuk-bentuk keindahan (kecantikan, ketampanan, dan lain-lain-pen), atau
(usaha) mengumpulkan harta, di tengah usahanya untuk mendapatkan hal itu dia
akan menemui rasa susah, sedih, sakit dan sempit hati, yang tidak bisa diungkapkan. Dan kemungkinan
hatinya tidak mudah untuk meninggalkan keinginannya, dan dia tidak mendapatkan
apa yang menggembirakannya. Bahkan dia selalu berada di dalam ketakutan dan
kesedihan yang terus menerus. Jika dia mencari sesuatu yang dia sukai, maka
sebelum dia mendapatkannya, dia selalu sedih dan perih karena belum
mendapatkannya. Jika dia sudah mendapatkannya, maka dia takut kehilangan atau
ditinggalkan (sesuatu yang dia sukai itu) [Majmû’ al-Fatâwâ, 10/651]
MENUNDUKKAN HAWA NAFSU
Maka untuk meraih keselamatan, orang yang mengikuti hawa
nafsu harus menerapi dirinya dengan rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla
sehingga akan menghentikannya dari mengikuti hawa nafsunya. Demikian juga perlu
diterapi dengan ilmu dan dzikir. Dengan keduanya maka hawa nafsu akan
terpental. Jika rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla sudah tertanam di dalam
hati, maka hati akan bisa memahami dan melihat kebenaran sebagaimana mata yang
melihat benda-benda dengan sinar terang matahari.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ
عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
syurgalah tempat tinggal(nya). [An-Nazi’at/79: 40-41]
Semoga Allâh selalu membimbing hati kita sehingga sellau
mampu menundukkan hawa nafsu dengan sebaik-baiknya. Hanya Allâh tempat memohon
pertolongan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun
XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –
Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi
08122589079]
10 CARA MENGENDALIKAN HAWA NAFSU
Oleh Ezye Kurniawan pada Rabu, 19 Desember 2012 pukul
13.40
Bagi seseorang muslim yang menyadari hakikat
kehidupannya, akan senantiasa menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang
menjerumuskan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat yang dirasa cocok.
Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan Allah yang ada dalam diri
manusia, sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya. Karenanyalah manusia
memiliki keinginan untuk makan, minum, dan menikah.
Nafsu dapat mendorong kepada sesuatu yang dikehendakinya.
Ia akan berada pada jalur yang benar manakala dikendalikan . Namun sebaliknya,
ia akan menghancurkan manusia jika nafsu yang mengendalikannya. Celaan terhadap
nafsu dating ketika berlebih-lebihan dalam dua sikap ini, yakni yang melebihi
sikap mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot. Orang yang menuruti nafsu,
syahwat dan rasa benci biasanya tidak konsisten pada batasa yang bermanfaat
baginy, jarang ada orang yang bisa bersikap adil dengannya.
Allah tidak pernah menyebutkan nafsu di dalam kitabNya
melaikan mencelanya. Begitupula tidak ada sebutan nafsu dalam sunnah melainkan
dalam keadaan tercela, kecuali yang memang ada pembatasan, seperti sabda
Rasulullah saw:
“Laa yu’minu ahadakum hatta yakuuna hawaahu taba’an lima
ji’tu bihi.” (Tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga nafsunya
mengikuti apa yang kubawa.)
Orang yang sudah dewasa akan diuji dengan hawa nafsu.
Setiap saat akan muncul kondisi yang menciptakan dua hakim pada dirinya, yaitu
hakim akal dan hakim agama. Dia diperintahkan agar senantiasa melaporkan
kasus-kasus nafsu kepada dua hakim ini dan patiuh terhadap keputusannya. Dia
harus berusaha melatih diri menyingkirkan hawa nafsu yang tidak baik akibatnya,
agar dikemudian hari tidak mendapat kesengsaraan.
Jika kita memperhatikan tujuh golongan orang-orang yang
mendapatkan perlindungan arsy Allah pada hari yang tiada perlindungan selain
perlindungan-Nya, maka kita mendapatkan bahwa itu adalah hadiah karena
menentang hawa nafsunya. Pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan tidak mungkin
bias berbuat adil kecuali dengan menentang nafsunya.
Pemuda yang mementingkan ibadah kepada Allah semasa
mudanya tidak akan mampu andaikan ia tidak menentang nafsunya. Orang yang
hatinya bergantung pada masjid-masjid, bisa seperti itu karena dia menentang
nafsu yang hendak menyeretnya kepada berbagai macam kenikmatan. Orang yang
mengeluarkan shodaqohnya, andaikan ia tidak menentang nafsunya tentu tidak akan
mampu berbuat seperti itu.
Orang yang diajak wanita yang cantik dan terpandang, lalu
dia takut kepada Allah dan menentang nafsunya dan orang yang mengingat Allah
dalam keadaan sendirian, hingga kedua matanya meneteskan airmata mampu berbuat
seperti itu kecuali dia menentang hawa nafsunya. Mereka tidak mengenal panas,
siksaan dan kesulitan pada hari kiamat.
Untuk selamat dari jeratan hawa nafsu, seorang hamba
harus dengan sepenuh hati bersungguh-sungguh melawan hasrat buruknya. Dengan
taufik Allah, ia akan selamat darinya seraya mencermati langkah-langkah
pengendalian berikut :
1. Menyadari bahwa nafsu adalah dinding pagar yang
mengitari jahannam.
Barang siapa yang terseeret ke dalam nafsu, berarti dia
terseret ke dalam neraka.
Sabda nabi,
“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan
neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.”
Orang yang mengikuti nafsu dikhawatirkan akan lepas dari
iman, sementara dia tidak menyadarinya. Mengikuti nafsu bias menutup pintu
taufik bagi manusia dan membuka pintu penyesalan.
Fudhail bin ‘Iyadh berkatam “Barangsiapa yang mengikuti
nafsu dan menuruti syahwatnya maka terputuslah tali taufik dari dirinya.”
2. Memanjakan nafsu berarti merusak akal dan fikirannya
dan itu berarti mengkhianati Allah dalam hal penggunaana akal.
Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bias bangkit untuk
mencapai syurga bersama-sama dengan orang yang berhasil mendapatkannya.
Muhammad bin Abdul Warad berkata, “Sesungguhnya Allah
mempunyai satu hari, siapa yang tunduk kepada nafsunya tidak akan bisa selamat
dari siksaan-Nya. Di antara orang-orang yang jatuh dan tidak bisa bangkit pada
hari kiamat ialah orang yang tunduk kepada nafsunya.”
3. Menyadari bahwa dengan menentang nafsu akan
menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
Orang salaf berkata, “Orangyang mampu mengalahkan hawa
nafsunya lebih kuat daripada orang yang mampu menaklukkan sebuah kota
sendirian.” Orang yang paling ksatria adalah yang paling keras menentang hawa
nafsunya.
Muawiyah berkata, “Sifat ksatria ialah yang meninggalkan
syahwat dan menentang hawa nafsu. Mengikuti hawa nafsu berarti mengurangi sifat
ksatria.” Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih berat daripada memerangi
orang-orang kafir.
Menentang nafsu bisa menyelamatkan penyakit hati dan
badan sedangkan mengikutinya akan mendatangkan penyakit hati dan badan. Semua
penyakit hati berasal dari mengikuti nafsu. Jika kita meneliti berbagai
penyakit badan maka sebagian beasr berasal dari memperturutkan hawa nafsu.
4. Menyadari bahwa tidak ada satupun hari yang berlalu
melainkan nafsu dan akan saling bergelut di dalam diri orang yang besangkutan.
Mana yang dapat mengalahkan rivalnya, maka dia akan
mengusirnya dan menguasainya. Abu Darda r.a. berkata, “Jika pada diri seseorang
berkumpul nafsu dan amal, lalu amalnya mengikuti nafsunya, maka hari yang
dilaluinya adalah hari yang buruk. Jika nafsunya mengikuti amalnya, maka
harinya adalah hari yang baik.”
5. Menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan
nafsu, tetapi untuk sesuatu urusan yang besar yang tidak bias dicapai kecuali
dengan menentangnya.
Tidak boleh baginya memilih bahwa hewan lebih baik daripada
dirinya. Dengan tabiatnya saja hewan bias membedakan mana yang membahayakan dan
mana yang menyelamatkan, lalu ia memilih yang bermanfaat baginya dan
meninggalkan yang berbahaya. Manusia diberi akal dalam masalah ini. Jika dia
tidak bias membedakan mana yang dapat membahayakan dan mana yang bermanfaat
baginya, atau mengetahui tapi justru memlih yang berbahaya, berarti keadaan
hewan lebih baik dari keadaannya.
Sesungguhnya Allah menjadikan kesalahan dan mengikuti
nafsu sebagai dua hal yang berdampingan dan menjadikan kebenaran dan menentang
nafsu sebagai dua hal yang berdampingan sebagaimana dikatakan oleh sebagian
salaf, “jika ada masalah yang rumit engkau pecahkan, engkau tidak tahu mana
yang benar, maka tinggalkanlah yang lebih dekat kepada nafsumu, karena sesuatu
yang dekat dengan kesalahan ialah yang mengikuti hawa nafsu.”
6. Memiliki hasrat yang kuat untuk melawan hawa nafsunya
sehingga timbul kecemburuan yang amat sangat terhadap dirinya sendiri jika
melakukan kemaksiatan.
Membalutnya dengan kesabaran dalam menghadapi kepahitan
yang akan dihadapi ketika melawan hawa nafsunya sendiri. Membekalinya dengan
kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk mereguk kesabaran itu, sebab semua
bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat dan sebaik-baik
hidup adalah jika seseorang mengetahui hidup itu dengan kesabarannya.
7. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu,
sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu meloloskan ketaatan dan
berapa banyak nafsu itu mendatangkan kehinaan.
Berapa banyak satu suapan yang menghalangi beberapa
suapan. Berapa banyak sedikit kenikmatan yang menghilangkan beberapa
kenikmatan. Berapa banyak sedikit syahwat yang menghancurkan kehormatan,
menundukkan kepala, menciptakan kenangan yang buruk, mengakibatkan celaan dan
aib yang tidak bisa dicuci dengan air sementara mata orang yang menuruti hawa
nafsu adalah mata orang yang buta.
8. Memikirkan apa yang dituntut oleh jiwanya, lalu
berkata kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan mengabarkan bahwa apa yang
dituntut itu tidak ada artinya apa-apa.
Abdullan bin Mas’ud berkata, “Jika salah seorang diantara
kalian tertarik kepada seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat-ingat
keburukannya.” Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang
terjadi di kemudian hari dan sebaliknya mempertimbangkan penderitaan yang
semakin menjadi-jadi sebagai akibat menuruti kenikmatan hawa nafsu yang semu.
9. Menghinakan diri sendiri ketika tunduk kepada hawa
nafsu, sebab tidaklah seseorang menuruti hawa nafsunya melainkan pasti akan
mendapatkan kehinaan pada dirinya.
Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan orang-orang yang
mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari batinnya, mereka adalah orang-orang
yang paling hina dina. Orang seperti itu memadukan antara kesombongan dengan
kehinaan.
10. Kebanggan dapat menundukkan dan menaklukkan musuhnya.
Allah suka jika hamba-Nya berani menghadapi musuhnya
sebagaimana firman-nya,
“Dan mereka tidak menginjak suatu tempat yang
membangkitkan amarah orang-orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana
kepada musuh melainkan dituliskan bagi mereka dengan demikian itu sebagai amal
sholeh.”
(At-Taubah: 120).
Di antara tanda cinta yang tulus ialah melibas musuh
kekasihnya dan mengalahkannya. Jika kita mencintai Allah maka kewajiban kita
untuk mengalahkan musuh. Allah.
Maroji’: Rauah Al-Muhibbin wa Nuhzhah Al-Musytaqin, Ibnul
Qoyyim Al-Jauziyah, Darul Falah 1419 H
HAWA NAFSU DALAM PANDANGAN AL-QUR'AN DAN HADIST
Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir bahwa Rasulullah saw
bersabda, Allah swt berfirman: “Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku,
keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang
hambapun yang mengutamakan keinginannya (nafsunya) di atas keinginan-Ku, melainkan
Aku kacaukan urusannya, Aku kaburkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan
dunia serta tidak Aku berikan diinia kecuali yang telah kutakar untuknya.
Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku,
keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang
hambapun yang mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginan (nafsu) dirinya
melainkan Aku suruh malaikat untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin
rezekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia
akan datang dan selalu berpihak kepadanya”.[3]
Hadis qudsi cliatas amat populer dan terdapat dalam
beberapa kitab dari golongan Sunnah dan Syi’ah. Saya juga meriwayatkan hadis
tersebut melalui beberapa jalur. Sebagiannya darinya saya anggap sahih. Saya
mencoba menelaah hadis yang berharga ini pada tiga bagian:
Pertama, seputar definisi hawa nafsu (al-hawa),
bagian-bagian aksidentalnya, metode terapi dan “penjinaan”-nya. Bagian ini
dianggap sebagai pengantar kajian hadis tersebut. (Bagian ini kami bagi menjadi
tiga bagian menjadi I. Hawa Nafsu clalam Al-Quran dan Hadis, II. Tugas Akal
dalam Mengendalikan Hawa Nafsu, III. Telaah Kritis Bala Tentara Akal dan
Kejahilan pen.)
Kedua, seputar orang yang mengutamakan hawa nafsunya atas
perintah Allah. (Bagian ini kami bagi menjadi tiga bagian, menjadi : IV. Orang
yang Mengutamakan Hawa Nafsunya, V. Perbandingan Dunia dan Akhirat, VI. Telaah
Anali-tik tentang Dunia dan Akhirat pen.)
Ketiga, seputar orang yang mengutamakan keinginan Allah
atas keinginan dirinya. (Bagian ini menjadi bagian ketujuh yaitu VII. Orang
yang Mengutamakan Keinginan Allah.
Terminologi Hawa Nafsu dalam Alquran dan Sunnah
Hawa nafsu adalah istilah keislaman yang digunakan dalam
Alquran dan Sunnah. la menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman. Sering
kita menemukan kata hawa nafsu dalam Alquran dan Sunnah. Antara lain, Allah swt
berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S.
Al-Furqon 43.)
Dan firman Allah swt: “Dan adapun orang-orang yang takut
kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at 40- 41.)
Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahnya berkata:
“Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat
hawa nafsu dan angan-angan panjang.”
Diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah saw
bersabda: “Waspadalah terhadap hawa uafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada
terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa,
nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.”[4]
Imam Shâdiq as juga berkata: “Janganlah kalian biarkan
jiwa bersanding bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti (meinbawa)
kehinaan bagi jiwamu.”[5]
Enam Sumber dalam Jiwa Manusia
Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya
dalam kehidupan manusia, saya perlu menegaskan bahwa Allah swt telah memasang
beberapa sumber gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun
reaktif- dan kesadaran manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada
enam sumber penting, yang terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut.
1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan
kecenderungan. hasrat dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih
keutamaan-keutamaan akhlak, seperti kesetiaan, ‘iffah (harga diri), belas kasih
dan murah hati.
2. ‘Aql, adalah titik pembeda manusia.
3. Irâdah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin
kebebasan manusia (dalam mengambil keputusan) dan kemerdekaannya.
4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. la
bertugas mengadili, mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi
menyeimbangkan prilakunya.
5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi
kesadaran dan pengetahuan, sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran,
yang dapat menerima atau menampung pencerahan Ilahi.
6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan
dalam jiwa manvisia yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya
terpenuhi, iadapat memberi manusia kenikmatan tersendiri.
Inilah keenam sumber penting bagi gerak dan kesadaran
jiwa manusia yang telah diberikan oleh Allah.
Dalam kesempatan ini, rasanya tidak tepat jika saya
membahas sumber-sumber tersebut atau membentuk gambaran dan simpulan ilmiah
melalui nash-nash keislaman. Karena, bidang psikologi keislaman ini memerlukan
kajian, observasi dan penalaran yang mendalam. Semoga Allah memudahkan bagi
mereka yang menelitinya melalui teks-teks keislaman. Bidang ini tergolong subur
dan “perawan” (tak tergarap). Kesuburan dan “keperawanan” salah satu dari
lahan-lahan budaya keislaman ini mestinya merangsang para ilmuwan dan peneliti
untuk menggarapnya.
Tugas saya dalam kajian kali mi, hanya terbatas pada
masalah definisi serta peran hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Di samping
itu. saya akan membahas keistimewaan, dampak, tujuan dan sarana-sarana
pengekangannya serta beberapa masalah lain yang berkaitan.
Bersamaan dengan itu, dalam mengkaji hawa nafsu saya akan
beberkan hadis-hadis yang berhubungan dengan “sumber-sumber” lain jiwa yang
ikut andil dalam pergerakan dan kesadaran manusia. Penggunaan istilah hawa
nafsu dalam kebudayaan Islami mangacu pada gabungan beberapa naluri yang
bersemayam dalam jiwa, sedangkan manusia sebagai penyandangnya selalu dituntut
agar memenuhi hasratnya. Berbagai naluri syahwati itu membentuk bagian
terpenting dan berperan luar biasa dalam kepribadian manusia. la adalah faktoi-
utama dalam menggerakkan dan mengatur diri manusia. Bahkan sebagai kunci yang
paling efektif untuk mengatur aksi dan reaksinya.
Memahami Hawa Nafsu
Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa
terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya.
Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu
menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan
hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak
dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul
(superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.
Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat
bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu,
jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama
dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:
Jika kau ikuti hawa,
ia akan menuntunmu
menuju semua perbuatan
yang tercela bagimu.
Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa
yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala
fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber
kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang
meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan
hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal
ini dan berusaha
mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah
(penentangan).
Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang
batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada
kebatilan disebut
hawa.
Hawa terbagi dua:
Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri
seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta
diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk,
karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama,
menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang
berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap
kokoh, tidak goyah.
Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan
tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah,
mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan
mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela. Namun karena
hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai
keburukan yang telah dilakukannya.
Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob).
Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul
ketika
seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan
sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal
sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.
Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika
seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk,
merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan
dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika
marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.
Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat.
Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar
menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul
Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan
kebatilan. Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka
sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua
perilakunya — makan, tidur, berbicara, dan lain-lain — mereka hanya
melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala
sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.
(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn,
Putera Riyadi)
Catatan:
Muruah: Usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang
dianggap baik oleh masyarakat dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk
olehnya, misalnya duduk-duduk di pinggir jalan, dll.
‘Agama’ Hawa Nafsu
Kamis, 25 Agustus 2016 - 08:58 WIB
Hujjatul Islam Imam al Ghozali menyebut orang yang suka
berdebat soal agama sebagai maghruur (orang yang tertipu)
‘Agama’ Hawa Nafsu
ilustrasi
Terkait
Antara Adab dan Iman
Adab dan Iman
Puasa yang Melahirkan Uswah
“Tafsir” Sains
Oleh: A. Kholili Hasib
IMAM al-Ghazali pernah bercerita tentang ilmuan pengikut
hawa nafsu. Siapa dia? Salah satu dicontohkan adalah ada seseorang yang
menyatakan diri sebagai faqih (ahli fikih) yang ujub. Fanatik pada keahliannya,
sehingga menolak ilmu-ilmu lain yang dianggapnya rendah.
Siang-malam dihabiskan untuk meneliti persoalan kecil
dalam hukum demi mendebat rivalnya, namun melupakan penyakit yang menempel
dalam hatinya sendiri. Berprasangka
bahwa tidak ada ilmu lain yang menarik perhatiannya, kecuali ilmu perdebatan
(munadzarah), membela diri, mengalahkan lawan-lawannya demi eksistensinya
sebagai ilmuan yang ‘ahli’ fikih. Ilmu tasawwuf, ilmu tafsir, hadis, ilmu
lughah dan lain-lain disingkirkan. Dikiranya, hanya modal hafal fatwa hukum dan
sedikit berdalil al-Qur’an ia menjadi hebat.
Sang Hujjatul Islam menyebutnya sebagai maghruur (orang
yang tertipu). Semangatnya mendebat, ternyata bukan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Tetapi untuk ketenaran dirinya dihadapan orang banyak. Dalil pun dicari-cari
untuk direkayasa, supaya rivalnya tidak bisa menjawab.
Begitulah, jika nafsu yang menjadi landasan sikap, — yang
cendekia menjadi bodoh, dan amal yang semestinya benar menjadi salah. Statemen
dan pendapatnya mengandung kepentingan. Baik kepentingan pribadi atau
kelompoknya.
Beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala itu baik, akan
tetapi bila niatnya karena nafsu, maka ibadah itu bisa berubah menjadi maksiat.
Sedekah itu ibadah sosial yang baik. Namun bila sedekahnya dipamerkan, menjadi
riya. Sedangkan pamer amal sholih dilarang agama.
Seharusnya, marah, bertindak dan diam itu karena Allah
Subhanahu Wata’ala. Imam al-Ghazali mengatakan: ‘Ikhlas itu bila kamu diam atau
bergerak, hanya karena Allah’. Beribadah karena Allah, meninggalkan maksiat
juga karena-Nya. Begitu pula mendukung tokoh fulan semestinya karena Allah,
menolak dukungan kepada tokoh fulan, juga semata-mata atas alasan agama.
Sebuah fatwa agama
harus kita terima jika dari ulama yang alim. Jika, hati kita menolak
sebuah fatwa ulama disebabkan gara-gara muftinya itu berasal dari lembaga lain,
maka ini namanya nafsu. Menolak dan menerima karena dorongan hawa nafsu.
Syekh Ibnu Athoillah al-Sakandari mengingatkan, nafsu itu
bukan hanya bermain-main di ‘wilayah’ maksiat. Tetapi, nafsu juga bermain dalam ibadah seorang Muslim.
Bahkan, nafsu yang menyusup ke dalam ibadah itu lebih sulit dikenali, daripada
nafsu yang mendorong maksiat. Sehingga, menghilangkannya pun lebih susah.
Semangat ibadah karena dorongan nafsu ini bahayanya
melebihi nafsu dalam maksiat. Mereka yang menjadi pengikut hawa nafsu, bahkan
intensitas ibadahnya melebihi ibadah orang pada umumnya.
Ketika semangat
ibadah seseorang sedang naik, maka ada dua kemungkinan; bila dia orang baik,
berarti dorongan itu semata karena Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi, jika
dia penderita penyakit hati, maka dipastikan dorongan itu karena hawa nafsu.
Mereka ini penyembah hawa nafsu, bukan penyembah Allah
Subhanahu Wata’ala. Amalaiyah keagamaannya diletup oleh nafsu, bukan ilmu.
Karena itu, biasanya keliru.
Ibnu Athoillah al-Sakandari memberi contoh penyembah
nafsu yaitu; seseorang yang semangat beribadah sunnah tetapi malas beribadah
wajib. Beliau mengatakan: “Salah satu tanda seseorang itu mengikuti hawa nafsu
adalah, bersegera dalam menjalankan ibadah sunnah, tetapi malas menunaikan
kewajiban” (Ibnu Athoillah al-Sakandari,Al-Hikam,hal.23).
Mestinya, kewajiban itu diutamakan daripada sunnah.
Inilah adab dalam ibadah. Kewajibaan saat ini yang banyak dilupakan banyak
orang adalah menuntut ilmu (thalibul ilmi). Hukumnya fardhu ‘ain (kewajiban
personal). Akhirnya, terjadi kerusakan ilmu.
Muhammad bin Abil Warud mengatakan: “Kerusakan manusia
itu karena dua hal:pertama, sibuk mengamalkan sunnah, dan melalaikan kewajiban.
Kedua, melakukan amaliyah dzahir, tanpa membersihkan hati” (Abdullah Muhammad
bin Ibrahim,Ghaits al-Mawahib al-‘Aliyyah fi Syarh al-Hikam al-Athoiyyah,
hal.243).
Ada orang tua sangat menekankan anak-anaknya untuk kursus
bahasa Mandarin, kursus menari, musik, bimbingan belajar matematika dan
lain-lain. Bahkan beban itu terlampau melewati batas normal kemampuan anak.
Dengan biaya mahal sekalipun. Tapi lupa anaknya belum bisa membaca Surat
al-Fatihah, belum hafal bacaan shalat dan tata caranya, dan buta terhadap
maksud rukun iman dan Islam. Padahal bahasa Mandarin tidak wajib, sedangkan
shalat itu wajib.
Dalam Islam, adab ibadah itu penting, karena berefek
kepada sah dan tidak sahnya pahala. Haji dan umrah adalah ibadah dengan pahal
besar. Tetapi bila umrah berkali-kali tetapi tetangga dan saudaranya kelaparan,
tidak bisa membayar sekolah, maka umrah itu bukan berbuah pahala. Bersemangat
umrah berkali-kali, bermalas-malas menyantuni tetangga dan saudarnya yang
fakir, merupakan contoh ibadah yang didorong nafsu.
Kisah pengalaman pribadi Abu Muhammad al-Murtaisy
(w.940M), seorang sufi dari negeri Nisapur, ini bisa menjadi ibrah. Ia berhaji
berkali-kali, tiada lelah sama sekali. Padahal, ibadah haji itu sangat berat.
Butuh biaya banyak dan tenaga kuat. Ia sadar, bahwa semangatnya berhaji sampai
berkali-kali itu karena nafsu setelah ia merenung. Suatu kali ia disuruh orang
tuanya mengambilkan segelas air minum, tetapi dalam hatinya berat sekali
melaksanakannya. Ia lalu mengetahui, beratnya melaksankan perintah ibu ini
karena nafsu, dan semangatnya berhaji tanpa beban itu juga karena nafsu.
Jadi, nafsu itu bisa ‘menyulap’, ibadah yang berat
menjadi ringan, serta ibadah yang ringan menjadi berat. Memang sifat dasar
nafsu itu selalu menipu. Namun, jika manusia mampu mengendalikan nafsu yang liar,
maka manusia bisa menjadi rasional kembali.
Dalam perang Khandaq, sayidina Ali bin Abi Thalib ra
pernah membatalkan untuk membunuh musuh. Padahal, musuhnya yang kafir terjatuh
tersungkur, sedangkan sayidina Ali sedang menghunus pedang. Tinggal satu pukulan,
musuhnya itu kalah. Tetapi, di saat sayidina Ali mengarahkan pedangnya,
musuhnya meludahi muka beliau.
Sayidina Ali bukannya tambah marah, tetapi malah diam
menahan pedangnya. Hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, orang kafir
tersebut bertanya.”Mengapa engkau tidak jadi membunuhku, wahai orang baik?”
Sayidina Ali menjawab,”Harta benda dan hidupmu menjadi
berharga bagiku. Aku tak berhak membunuhmu. Aku diperbolehkan membunuh hanya
dalam perang suci, yaitu perang yang diperintahkan oleh Allah dan semata-mata
karena-Nya. Barusan aku telah mengalahkanmu dalam peperangan, memukulmu jatuh,
dan hampir saja membunuhmu.
Namun ketika engkau meludahi wajahku, kemarahanku
sendirilah yang bangkit untuk menghabisimu. Jika jadi membunuhmu, aku melakukannya
bukan karena Allah, tetapi karena kemarahan dan nafsuku sendiri.
Karena itu, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:
أَرَءَيۡتَ مَنِ
ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ أَفَأَنتَ
تَكُونُ عَلَيۡهِ وَڪِيلاً
(٤٣)
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?.”
(QS: Al-Furqan: 43).
Ibadah karena nafsu seperti tersebut di atas adalah
menjadikan nafsu sebagai tuan dan tuhannya. Jika segalanya karena hawa nafsu, maka
dia menjadikan nafsu sebagai agamanya.*
Penulis Wakil Seketaris Majelis Intelektual dan Ulama
Muda Indonesia (MIUMI) Jatim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar